Sarang (Chapter 2)

image

SARANG

Story present by Kimchoi and Vy

Cast find it by you’re self

Story with lenght chaptered and rating T

Genre(s) – Romance . School Life . AU . Comedy

Warning! terlalu banyak cast, cerita abal dan gaje, alur rada. Typo(s) everywhere you find it. Just happy reading guys~

————

When boy, meet the girl, and feel a strange feeling to each other, its call, Sarang…

————

“What? Kau lagi?” Chohyun menunjuk lelaki itu sebal. Lelaki itu hanya menatap jengkel dan melanjutkan aksi menarik hyung-nya.

“Sudahlah hyung! Jangan mencari mas-”

“Kau ini berisik sekali! Aku mau di sini! So, jangan ganggu!” Seru lelaki yang lebih tua.

“Kalian, dengar ya! Kita berdua ini mahasiswa percobaan. Kita mensurvey sebagai anak Senior High School di sini!” Chohyun menunjuk nunjuk wajah lelaki yang terlihat seperti ketua diantara keempatnya.

“Lalu? Kau mau apa?” Tanya lelaki itu meremehkan.

“Kita bisa saja laporkan bahwa mahasiswa di sini kurang ramah, dan kalian akan di drop out dari sini!” Balas Heejoong.

“Hanya karena kurang ramah? Dasar melebih lebihkan!” Lelaki itu mendengus.

“Hyung, dia itu pewaris CHOHEE’s Group!” Lelaki tadi berbisik. Yang lebih tua terlihat mengangkat alisnya.

“Hanya karena pewaris, kalian bisa seenaknya?” Sebal lelaki itu.

“Kau yang seenaknya! Dasar pemaksa! Pergi!” Chohyun mengusir semua lelaki itu. Ia mulai menyantap makanannya.

“Pin-dah! Se-ka-rang, JU-GA!!” Lelaki itu berbicara sambil menekan nekan meja dengan jari telunjuknya.

“Tidak akan! Pergi sebelum kalian kubilang cabul!” Heejoong angkat suara.

“Ancaman tidak berguna!” Lelaki itu menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Aku bisa melakukannya sekarang, dan mungkin kalian tidak mengetahuinya, tapi… Kang Minhyuk ini punya catatan kelakuan buruk yang berkasnya di simpan rapih di pusat perusahaan.” Chohyun hanya bersikap santai.

“Kau mau mengungkitnya lagi?” Bentak Minhyuk.

“Terserah padamu. Aku bisa menambah daftar kriminalmu pada journal sekolah. Jadi, cepat pergi!” Chohyun sedikit bergetar.

“Sudahlah Hyung! Kita pergi saja!” Lelaki lain di sana menarik Hyungnya. Sedangkan yang ditarik menatap jengkel.

“Hah….” Chohyun menutup matanya.

“Kau berani sekali!” Sahut Heejoong. Chohyun hanya diam.

“Aku hanya tidak ingin dia mengangguku lagi. Sudah cukup dengan yang terakhir kali itu.” Chohyun terdiam. Ia menatap kosong ke depan.

“Tapi biasanya kau mendengar namanya saja bisa menangis. Tadi kau bahkan memakinya! Wow, Park Chohyun!” Heejoong tampak melebih lebihkan.

“Sudahlah!” Chohyun tampak muram. Heejoong hanya diam akhirnya.

***

“Ya Tuhan! Kenapa semua tugas ini menyusahkan sekali? Aku harus pulang!!!” Baekhyun tampak sibuk dengan beberapa kertas yang berserakan di kamar asramanya. Teman sekamarnya hanya geleng geleng.

“Mau sampai kapan kau mengurusi kertas itu? Peduli sekali pada kertas itu. Memang kertasnya peduli padamu?” Cibir Jongdae. Baekhyun mendelik. Lelaki itu tidak tau apa? Kalau ia bisa menyelesaikan tugas itu dalam dua hari, ia bisa pulang ke Korea lebih cepat.

“Aku ingin pulang, Chen!” Pekik Baekhyun frustasi. Ia sudah mengabari keluarganya kalau ia akan pulang. Jadi ia harus pulang.

“Aku juga, tapi sayangnya, aku sepertinya akan berakhir di sini sampai kelulusan. Ah iya, sepupuku, juga akan pulang. Namanya Chanyeol. Mungkin kau akan bertemu dengannya nanti. Kau bilang kau sekolah di mana?” Tanya Jongdae.

“CHOHEE’s Art School!” Baekhyun memeriksa sekali lagi tugasnya. Ia mengangguk puas.

“Nah, katanya Chanyeol akan pindah ke sana. Kau bisa menjadi teman pertamanya mungkin.” Ucap Jongdae.

“Ya, terserah! Aku akan mengumpulkan tugasku! Adikku sudah mengumpulkan tugasnya. Jadi kita bisa pulang! Ya Tuhan! Aku merindukan rumah!” Baekhyun meregangkan seluruh badannya dan berdiri. Bersiap mengumpulkan tugasnya.

“Kau mau mengumpulkannya sekarang?” Tanya Jongdae menaikkan alisnya. Baekhyun mengangguk lucu.

“Tentu, aku takut lupa kalau mengumpulkannya besok. Lagipula ibu kepala sekolah pasti masih ada di ruangannya jam segini.” Baekhyun mencopot sandal rumah berbentuk anak anjing miliknya (pemberian Chohyun). Dan menggantinya dengan sepatu santainya. Ia memakai jaketnya lalu keluar kamarnya.

“Dasar rajin!” Cibir Jongdae saat pintu tertutup.

***

Pagi ini, Heejoong bangun lebih pagi. Ia keluar kamar dan duduk di meja makan. Di sana sudah ada Jieun, kakak perempuannya.

“Annyeong eonni!” Heejoong menyapa kakaknya sembari menguap. Jieun hanya terkekeh melihat kelakuan adiknya.

“Pagi Heejoong-ah! Bagaimana kemarin sekolahmu? Menjadi mahasiswa percobaan?” Godanya. Heejoong hanya mendelik sebal. Menjadi siswa percobaan itu benar benar menganggu menurutnya. Ia benar benar sebal.

“Seperti yang eonni tau.” Jawab Heejoong seadanya.

“Oh yah, kau ingat lelaki yang menolongmu ketika smp dulu? Dia mengirim surat untukmu!” Seru Jieun. Heejoong sontak membuka matanya lebar dan berlari ke ruang keluarga. Tempat biasanya mereka menaruh surat dan kiriman. Heejoong mengobrak abrik surat yang berada di atas meja dan menemukan satu surat yang tertera namanya. Amplopnya berwarna pink dan juga biru langit. Lucu sekali menurutnya. Imut.

“Ah ya Tuhan! Akhirnya!!” Heejoong berlari ke kamarnya. Jieun hanya menggeleng melihat adiknya.

“Kenapa dia eonni?” Tanya Chohyun saat melihat Heejoong berlari lari. Jieun hanya tersenyum dan menggeleng geli. Chohyun hanya menatap Jieun dengan alis terangkat bingung.

“Mandilah, lalu sarapan! Masih ada dua hari sebelum masa percobaan kalian selesai!” Sahut Jieun. Chohyun hanya mengangguk. Ia menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Efek baru bangun tidur. Apa saja pasti digaruk.

“Hmm, jangan mengingatkanku! Mana Yoojung?” Tanya Chohyun. Jieun hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak tau.

“Aku akan mandi terlebih dulu. Bangunkan Yoojung, eonni! Dia kan sulit sekali bangun tidur seperti kakaknya!” Pekik Chohyun sebal. Jieun hanya mengangguk ngangguk.

***

Minhyuk tampak meringkuk di dalam selimutnya. Enggan untuk keluar dari kehangatan selimut itu. Bukannya ia malas atau apa, tapi dia tidak ingin bertemu Chohyun lagi seperti kemarin. Ia tidak sanggup, tatapan kecewa dan terluka Chohyun sudah cukup menghantuinya selama hampir tiga tahun terakhir ini. Minhyuk bersalah. Ya, dia bersalah! Dia menghancurkan seorang Chohyun.

Kepalanya ia telusupkan ke dalam bantal. Ia menutup kedua telinganya. Tidak mau semua kenangan pahitnya muncul saat itu juga. Keringat dingin mulai mengalir pada keningnya. Minhyuk berteriak frustasi. Ia tidak suka semua situasi ini. Di mana seluruh kenangan itu seakan menimpanya dan menghimpitnya karena kesalahan yang ia perbuat dulu.

***

“Aaaaaaaa, YA AMPUN!!” Teriakan Heejoong pagi itu hanya mendapat gelengan dari ketiga gadis lain di sana. Sepertinya gadis dengan rambut coklat itu sedang kumat. Dan kalian tau kan siapa yang seharian nanti akan kena imbas kambuhnya seorang Song Heejoong bukan?

“Berhenti berteriak seperti tarzan Heejoong. Ini rumah! Bukan hutan!” Pekik Chohyun marah. Ia ingin sekali menjambak rambut gadis itu.

“Baiklah, maaf maaf. Mianhae!” Balasnya dengan senyum kelewat manis yang membuat Chohyun ingin muntah. Ayolah, ia perempuan! Kenapa pula harus melihat perempuan lain tersenyum seperti ia menyukainya?

“Terserah kau saja!” Jawab Chohyun sekenanya.

“Maaf, ya Tuhan, Park Chohyun! Baiklah! Aku tidak akan berisik. Tapi ini benar benar lucu! Aku sepertinya menyukai lelaki itu!!!” Pekik Heejoong histeris. Chohyun hanya menatap jengkel. Kalau suka ya sudah! Memang ada urusannya denganku? Pikir Chohyun

“Yaa… terus kenapa? Aku harus ngasih selamat padamu gitu?” Chohyun mulai merasa jengkel dengan kelakuan Heejoong.

“Hmm… boleh juga tuh.” Heejoong menjawab dengan senyum lebih lebar dari sebelumnya. ‘Isi suratnya apa sih sampai dia jadi begitu. Tapi aku sudah lama sekali tidak melihat Heejoong sebahagia ini setelah 1,5 tahun.’ Batin Chohyun.

“Hey kalian tidak berangkat, nanti telat loh.” Jieun memperingatkan mereka sambil menunjuk jam dengan matanya.

“Ah, baiklah. Kalau begitu kami berangkat dulu. Ayo Heejoong!” Chohyun berjalan duluan. Tapi dia tidak mendengar ada suara kaki yang mengikutinya. Chohyun menengok ke belakang dan mendapati jieun eonni dan yoojeong eonni yang sedang memperhatikan Heejoong dengan tatapan aneh. Dan Heejoong yang tersenyum kepada surat yang dipegangnya seperti orang… autis.

“YAA!!! HEEJOONG!!! AYO!!!! Ntar kita terlambat!” Chohyun mengambil surat yang ada di tangan Heejoong. Heejoong yang merasa surat berharganya di ambil langsung menatap tajam mata Chohyun.

“Mau kau apakan dengan suratnya? Sampai surat itu lecek… awas kau!” Heejoong mulai mengancam Chohyun.

“Makanya ayo berangkat!” Chohyun melempar suratnya dan langsung berjalan menuju garasi. Heejoong pun langsung mengambil suratnya dan menyimpannya dengan rapih di tasnya kemudian dia mengikuti Chohyun berjalan menuju garasi.

***

Chohyun dan Heejoong sampai di sekolah. Mereka mencari tempat parkir. Sayang tidak ada tempat parkir tersisa. Setelah mencari, akhirnya mereka menemukan tempat parkir yang tersisa. Hanya ada yang berada di dekat pintu masuk gedung kampus dan di belakang gedung kampus. Dengan segala kemungkinan dan presentase yang ada, mereka memilih tempat parkir di depan gedung kampus. Setelah memarkirkan motor mereka dan membuka helm, mereka mendengar suara klakson motor yang hampir saja membuat mereka tuli. Mereka terlonjak kaget. Karena sebal, Chohyun dan Heejoong membalikkan badan dan menemukan 4 pengganggu sialan.

‘Mereka lagi.’ Batin Heejoong.

‘Minhyuk oppa… ‘ Chohyun membatin. Wajahnya terlihat sendu.

“Hey kalian pindah!” Teriak si ketua yang kemarin di kantin mengganggu Chohyun dan Heejoong.

“Kenapa kami harus pindah? Kan masih ada dua lagi disebelah.” Tanya Heejoong dengan malasnya.

“Karena parkiran ini khusus untuk kita berempat.” Mereka mulai berulah.

“Gak ada tulisannya. Dan buktinya mana kalau parkiran ini tempat kalian?” Heejoong membela.

“Emang gak ada.” Si ketua menjawab.

“Sudahlah hyung, kita cari tempat lain saja.” Minhyuk mencoba melerai pertikaian.

“Lihat, anggotamu saja menyuruhmu pindah.” Kata Heejoong sambil menunjuk Minhyuk dengan dagunya.

“Hey Minhyuk. Sekarang kau membela mereka ya? Kau mau dikeluarkan dari geng ini, hah?” Si ketua membalikkan badannya membelakangi Chohyun dan Heejoong agar dapat berbicara dengan Minhyuk.

“Bukan begitu. Aku hanya ingin agar kita tidak mencari masalah dengan mereka. Hyung kau tidak ingat perkataan mereka di kantin?” Minhyuk mengingat-ingat perkataan Chohyun kemarin.

“Akukan kemarin juga sudah bilang. Mereka hanya melebih-lebihkan. Kita bicarakan nanti dulu. Sekarang aku perlu mengurus…” Perkataan sang ketua terhenti seketika setelah ia membalikkan badannya dan tidak menemukan dua orang yang mengambil tempat parkirnya. “Dimana mereka? Berani-beraninya mereka kabur begitu saja. Akh, benar-benar.” Si ketua berteriak-teriak tidak jelas sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari dua orang yang mengambil lahan parkirnya. Dan tidak lama kemudian dia tersenyum seperti orang gila. Teman-teman yang di belakangnya hanya berjengit heran.

“Yonghwa hyung. Kau kenapa? Tadi teriak-teriak tidak jelas dan sekarang malah tersenyum seperti orang gila.” Tanya yang berbadan paling tinggi diantara empat orang tersebut.

“Jungshin, Sekarang jam berapa?” Tanya si ketua yang diketahui bernama Yonghwa. Bukannya menjawab, Yonghwa malah bertanya balik.

“Jam 07.45. 15 menit sebelum kelas dimulai. Memang kenapa? Tumben kau menyakan jam.” Jawab seseorang yang dipanggil Jungshin oleh Yonghwa.

“Ada urusan yang harus kita urus.” Kata Yonghwa sambil tersenyum sinis. Anggota yang lainpun hanya melirik satu sama lain dengan bingung.

***

“Mereka kenapa sih selalu mengganggu kita terus?” Sebal Heejoong. Chohyun hanya diam saja menanggapinya. “Hey. Chohyun kau kenapa? Tidak biasanya kau sediam ini?” Tanya Heejoong bingung dengan kebisuan Chohyun.

“Tidak apa-apa.” Jawab Chohyun. Heejoong hanya menghembuskan nafas dan mereka melanjutkan perjalanan menuju kelas mata pelajaran yang akan mereka jalani hari ini.

***

Pembelajaran tiga mata pelajaranpun sudah selesai tinggal enam mata pelajaran lagi yang akan Chohyun dan Heejoong jalani hari ini. Karena mata pelajaran yang selanjutnya masih sekitar 30 menit lagi sebelum mata pelajaran selanjutnya dimulai. Chohyun dan Heejoong memutuskan untuk istirahat sejenak sambil mengisi kekosongan perut mereka. Sampai di kantin, mereka langsung menduduki tempat yang dekat dengan jendela besar seperti kemarin.

“Chohyun kau mau makan apa?” Heejoong berdiri menatap Chohyun menunggu jawaban yang akan dilontarkannya.

“Samakan saja denganmu.” Jawab Chohyun sambil melihat Hpnya.

“Baiklah.” Heejoong segera meninggalkan Chohyun dan memesan makanan. Setelah beberapa menit, Heejoong kembali dengan nampan berisi makanan yang mereka pesan. Saat sedang bersiap untuk makan, mereka melihat dari kejauhan 4 orang lelaki sialan itu berjalan ke arah mereka. Saat sudah dekat, Chohyun dan Heejoong sudah siap-siap akan melontarkan kata-kata apabila 4 orang itu mengusik mereka lagi.

“Selamat menikmati makanan kalian.” Yonghwa berkata sambil tersenyum dan mereka hanya melenggang pergi begitu saja. Chohyun dan Heejoong melirik satu sama lain.

“Ada yang aneh dengan mereka.” Chohyun menatap Heejoong mencari apakah mereka memikirkan hal yang sama.

“Kau benar. Aahh sudahlah tidak usah dipikirkan. Yang penting mereka sudah tidak mengusik kita lagi.” Heejoong selesai berbicara langsung menyantap makanannya. Chohyun berfikir sejenak, tapi karena perutnya sudah memanggil manggil untuk diisi. Akhirnya Chohyun menyantap makanannya. Selesai makan mereka langsung menuju ruang kelas mata pelajaran berikutnya.

***

“Akh. Akhirnya mata pelajaran yang terakhir selesai juga.” Heejoong masih merenggangkan tubuhnya yang kaku setelah duduk berjam-jam.

“Iya. Badanku juga sudah sakit sekali. Ayo kita pulang.” Chohyun langsung mengambil tasnya dan berjalan menuju parkiran. Diikuti Heejoong dibelakangnya. Saat sampai di parkiran Chohyun dan Heejoong melihat banyak orang berkumpul.

“Kenapa banyak sekali orang disini?” Tanya Heejoong bingung dengan begitu banyak orangnya di parkiran.

“Tau. Memang ada apa sih? Tunggu, Heejoong bukannya disitu tempat motor kita parkir.” Chohyun mengingat-ingat tempat motor mereka terparkir.

“Benar juga. Memang ada apa mereka disitu? Mungkinkah mereka sadar motor kita beda?” Heejoong menerka-nerka apa yang terjadi dengan motor mereka.

“Mungkin?” Chohyun menyelip diantara kerumunan di belakangnya Heejoong juga mencoba menyelip mencoba masuk ke kerumunan itu. Dan begitu melihat apa yang membuat banyak orang berkerumunan. Mereka hanya terdiam. Bingung harus berkata apa. Motor mereka rusak dan banyak coretan pilok di badan motor. Chohyun dan Heejoong menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.

“Pantas mereka hari ini diam saja. Tidak mengusik kita lagi.” Chohyun akhirnya bersuara.

“Iya.” Heejoong menengok kesana kemari mencari sesuatu. Setelah menemukan barang yang ia cari, Heejoong langsung menyenggol Chohyun dengan sikutnya. “Ikut aku!” Kemudian Heejoong keluar dari kerumunan dan diikuti oleh Chohyun dibelakangnya.

Tbc

Bacodhannya vy : ini adalah bacot punya vy. Jadi ini vy ya. Nah, setelah sekian lama ff ini mengendap di dalam file word. Sekarang baru keoost atas niat gemes. Jadi klo lama itu salah rasa gemesnya belum muncul. Okelah terserah. Gak tau lagi. Salam EXO L~

Aku ikut ngebachod aja dikit. Mudah-mudahan yang baca ff ini gak bosen nunggu update-nya. Sekian. Makasih yang sudah baca.

Advertisements

About ECCEDENVY

Just A Human
This entry was posted in chaptered, drama, family, humor, romance and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s